Thursday, October 4, 2018

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Dimata Para Internet Marketing

Melemahnya Nilai Tukar Rupiah Dimata Para Internet Marketing

Blog Mesin Jahit - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sore ini kian lemah. Hingga Kamis (4/10) pukul 15.58 WIB, 1 US$ sama dengan Rp 15.179 di pasar spot. Dolar AS terus menunjukkan penguatan sejak pagi tadi. Sepanjang hari ini, mata uang Garuda berada di kisaran 15.080 hingga 15.199 per dolar AS.

Kurs Dollar Amerika Ke Indonesia


Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebut, kondisi pelemahan rupiah ini disebabkan faktor eksternal. Ia pun memastikan nilai tukar rupiah yang terus melemah ini tidak ada kaitannya dengan musibah gempa dan tsunami yang terjadi di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah.

"Tidak (berhubungan dengan bencana). Saya lihat dominasi hari ini mayoritas berasal dari luar yang sangat dominan pada saat yang lalu. Kita lihat sentimen kemarin adalah Italia yang defisitnya besar," kata Sri di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/10).

Bagi kami para internet marketer tidak ada alasan realistis ketika ada yang memojokkan kami para pemain internet marketing dengan gaji ribuan sampai ratusan ribu dollar perbulan dengan pelemahan rupiah terhadap dollar bahwa kita bersuka ria, karena sesungguhnya kami pun tetap akan terkena dampak signifikan,

bagaimanapun juga kami tetap sedih karena nilai tukar rupiah terus tergerus oleh penguatan dollar yang notabene terjadi dibanyak negara didunia. Emang betul dampak yang ditimbulkannya bisa saja membuat harga beberapa kebutuhan pokok naik, namun bukan berarti kita tidak mampu untuk mencari solusi.

Kami yakin bahwa pemerintah sudah berbuat sebaik-baiknya demi penguatan nilai tukar rupiah. Demikian kami pun turut serta membantu pemerintah, dengan kerja kerja kerja dan disaat gajian akan kita WITDRAW Dollar tersebut ke rupiah sebagai salah satu upaya membantu pemerintah dalam menguatkan kembali nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Kurs Dollar Amerika Indonesia


Pembelian produk2 dalam negeri juga sangat penting, seperti yang paling simpel adalah membelanjakan gajian kami ke warung2 kelontongan sekitar rumah, dengan begitu roda perekonomian dilingkungan bisa terus berputar, ya minimal seperti inilah cara kami menghargai peran serta pemerintah, bukan dengan cara menggunjing, berfikir negatif terhadap pemerintah, karena siapapun Presidennya ketika dihadapkan dengan kondisi dunia seperti saat ini sangat mustahil bisa dengan sekejap mata membentengi nilai mata uang kita.

Termasuk pergerakan kami turun ke masyarakat mengajak para kawula muda untuk ikut mencari puing2 dollar di internet merupakan salah satu langkah jitu untuk membentengi mereka dari poros2 pengangguran tak berduit yang akan menyebabkan kedengkian dan kecemburuan sosial.

www.mesinjahitbaru.blogspot.com Blog yang membahas tentang mesin jahit, perkonveksian, desain baju, fashion, hijab, belajar menjahit, dan informasi berita hari ini yang sedang hangat di kalangan masyarakat.
Selengkapnya

Tuesday, October 2, 2018

Korban Gempa Palu Sulawesi Utara Mulai Kelaparan

Korban Gempa Palu Sulawesi Utara Mulai Kelaparan

Dengar dan Lihatlah mereka, Lupakan Penjarah Itu Sejak sehari setelah kejadian. Korban gempa di Sulawesi Tengah telah mulai merintih kelaparan. Tidak heran. Karena banyak dari mereka saat menyelamatkan diri hanya membawa pakaian yang melekat di badan saja.

Korban Gempa Palu Kelaparan


Dan memasuki hari kelima ini. Teriakan, rintihan dan tangis kelaparan itu semakin menjadi-jadi. Puluhan, ratusan bahkan ribuan. Itu yang berhasil terekspos di media sosial. Entah bagaimana dengan yang tidak.

Dengarlah ratapan seorang laki-laki tua dalam sebuah vidio.

“Pak datanglah pak. Kami di sini sangat membutuhkan makanan. Kami di sini kekurangan makanan pak. Air obat-obatan apalagi. Di sini banyak mayat. Banyak yang terluka belum ada yang tertangani. Jadi kami mohon sekali bapak datanglah bantu kami di sini. Kami di sini pak terisolir. BBM pun tidak ada. Akses jalan untuk mencari makanan dan obat-obatan tidak ada. Kami di sini benar-benar lumpuh pak. Boleh kita lihat semuanya sekeliling (sambil menunjuk sekelilingnya, yang nampak hanya tumpukan puing-puing) Inilah yang terjadi kondisi hari Jumat bapak. Kami di sini hanya mengharapkan bantuan bapak... saya Irwan, Irwan Abdurrasyid penduduk di sini asli (penduduk apa pak tanya yang merekam). Penduduk desa Wani Dua, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala. Jadi kami mohon pak benar-benar bantuannya...”

“Tolong kasihani kami yang ada di sini, kami tinggal memungut makanan yang jatuh di jalan. Tolong pemerintah segera lakukan tindakan untuk kami di desa Lero, Kecamatan Sindue, Kabupaten Donggala. Karena sampai sekarang belum ada bantuan yang datang.” Nampak seorang wanita berusaha memungut mie instan yang sudah hancur tergilas di atas jalan raya.

“Bapak ini stroke, namanya bapak Usman. Butuh bantuan segera 085242070917 ini no. Hp yang bisa dihubungi.” Kata postingan lainnya. Dilengkapi foto seorang kakek tua yang tergeletak tak berdaya di atas tanah beralas tikar seadanya.

“Ya Allah...tolong siapapun kalian yang baca status saya. Saya mohon dengan sangat tim medis merapat kesini.” Ujar seseorang. Nampak seorang nenek dengan luka parah di kaki. Betis hampir putus, tulang kelihatan. Tanpa perban. Luka terbuka begitu saja.

Dan masih banyak rintihan-rintihan sejenis yang saya lihat berseliweran. Kesakitan, kelaparan dan kehausan.

Pada mereka tidak henti-hentinya saya berpesan dalam komentar. Tolong jangan terlalu berharap banyak pada pemerintah. Mereka tidak akan mampu menjangkau semuanya. Kami di Lombok telah merasakannya. Selama 2 bulan lebih. Carilah upaya sendiri untuk bertahan hidup. Kalau bantuan datang kita terima dengan penuh rasa syukur. Tapi kalau tidak? Jangan sampai kita mati kelaparan.

Sementara, relawan kemampuannya sangat terbatas. Belum lagi penjarahan bantuan yang ingin masuk ke wilayah bencana. Membuat harapan mereka untuk mendapat bantuan semakin menipis.

Saya tidak bermaksud menakut-nakuti. Saya hanya mengajak mereka realistis. Kasian jika penantian mereka akan berakhir dengan sia-sia. Sayapun kadang mengatakannya sambil menangis.

Jadi mari saudara-saudaraku. Kita gotong royong meringankan penderitaan saudara-saudara kita itu. Bagaimanapun caranya. Kalau tidak bisa langsung. Kirimkan donasi pada relawan, lembaga atau yayasan-yayasan yang terjun di sana. Semacam ACT, Dompet Duafa, Baznas dan sebagainya.

Fokus pada mereka yang merintih memohon bantuan. Kita kecewa memang melihat penjarahan-penjarahan itu. Tapi jangan sampai nila setitik itu merusak susu sebelanga. Mungkin penjarah itu berjumlah puluhan bahkan ratusan. Tapi ada ribuan bahkan jutaan orang baik di sana yang membutuhkan bantuan. Lihatlah gambar-gambar yang saya sertakan dalam postingan ini. Dengar dan lihatlah mereka, lupakan penjarah itu.

www.mesinjahitbaru.blogspot.com Media informasi seputar mesin jahit, konveksi, desain baju, fashion dan informasi berita aktual terkini yang sedang hangat dan viral.
Selengkapnya

Cerita Korban Gempa Palu Yang Selamat Dari Runtuhan Bangunan

Cerita Korban Gempa Palu Yang Selamat Dari Runtuhan Bangunan

Bukan hoax, tanah menggulung2 seperti karpet.
Bukan hoax, rumah bisa terbelah dan terpisah ratusan meter.
Bukan hoax, mayat bergelimpangan tanpa bus*na.

Cerita Korban Gempa Palu Yang Selamat


Saat itu magrib...
Dia sedang nyuapin kedua anaknya, tau2 bumi bergetar dg sangat hebatt,
Dia menyadari gempa saat itu tdk wajar, dia langsung menarik anaknya keluar rumah, lari ke tanah lapang...

Namun, apa langsung aman? Ternyata tanah tempatnya berdiri pun retak2 disertai suara gemuruh yg dia bingung dari mana asalnya, yg jelas sangat mengerikan....memang bukan air bah spt di pesisir, namun bumi bisa saja langsung menelanmu seketika....

Dia lari ke arah jalan yg rumah kanan kirinya blm pada runtuh, dia simpulkan disitu lebih aman, namun apa daya gempa seperti mengejarnya....

Sambil terus berlari, di kanan kiri dia saksikan banyak orang menyebut kebesaran Tuhan, namun banyak jg anak2 yg histeris menyaksikan ortunya tertimpa bangunan....

Sungguh sangat-sangat mengerikan dia saksikan...

Ada seorang anak yg dia paksa tarik utk ikut lari, neneknya terhimpit beton namun masih sempat teriak "tolong bawa dia"... Fokus dia ke arah bukit, terus berlari bersama 3 anak kecil...

Malam tiba, dia telah sampai di perbukitan, di sana tdk sendirian, ada belasan orang yg senasib, tanpa alas kaki, penuh luka, dan dengan tangis duka karena terpisah dan kehilangan orang yg mereka sayangi. Tiada air, tiada tikar, tiada lampu, boro2 bawa hape, bisa bawa anak lari menyelamatkan diri sudah sangat dia syukuri.

Malam pertama tidur beralaskan rerumputan... ingin tidur tapi mata tidak bisa terpejam, ya, mereka smua tergoncang psikisnya.. setiap ada gempa susulan dan gemuruh, anak sulungnya sekalu bertanya, "Ibu, apakah kita sebentar lagi mati spt orang-orang itu?" Dia hanya bisa menjawab pelan, "Tidak, ayah pasti akan datang menjemput kita"

24 jam pertama belum ada tanda-data bantuan masuk, kini mereka menyadari mereka terisolir... Mau kembali, jalan pun tdk bs dilewati lagi. Rumah sdh rata dg tanah, pemukiman udah lenyap.

Anak-anaknya mulai mengeluh haus, buang air tidak bisa cebok, lapar, dingin, sakit di luka2nya, dan trauma yg luar biasa...

Dia berusaha jalan lagi berbondong2 dg belasan org, mencari tempat lain siapa tau bantuan sdh datang. Anak2 mulai dehidrasi, demam... hanya ludah ibunya yg dioleskan supaya bibir balitanya agar tdk retak.

"Alhamdulilah!", teriaknya ketika melihat 2 org pemuda membawa 1 dus air gelas dan roti. Namun, 1 gelas air seharga 5rb, 1 roti jg 5 ribu. Dia tengok uang di sakunya, hanya ada 5rb. Dia memohon2, supaya anaknya sj yg dikasih, namun 2 pemuda itu tidak mengabulkan alasannya dia jg membeli dan tdk ada lg utk membeli jika itu habis.

Melihat anaknya yg pucat, tanpa pikir panjang, dia tonjok pemuda tersebut, dibantu emaj-emak yg lain, mereka berhasil "merampas" air dan roti itu utk anak2 mereka. dalam hatinya tak peduli mau masuk neraka, yg ada dia hrs menyelamatkan anak2nya dan juga anak2 lain secepatnya...

Di 48 jam pertama dia msh bs mendengar suara2 rintihan dari reruntuhan bangunan, namun hr ketiga suara2 itu makin sedikit...

Entah sdh brp kilometer mereka jalan kaki, smp akhirnya bs menjangkau posko kami. Lega rasanya anak-anaknya bisa selamat. Namun, air matanya menetes, saat anaknya bertanya, "Ayah di mana Bu?

😭😭
#PrayForPalu
Selengkapnya